Hukum Aqiqah Sehabis Berusia serta Gimana Solusinya
Ibadah aqiqah disyariatkan dilaksanakan pada hari ketujuh kelahiran anak, tetapi tidak seluruh orang tua sanggup buat mengaqiqahi anaknya pada dikala itu sebab kesusahan ekonomi sehingga si anak belum diaqiqahi hingga berusia apalagi sampai kesimpulannya menikah. Kala berusia, umumnya terdapat kemauan dari si anak buat mengaqiqahi dirinya sendiri. Banyak persoalan terpaut dengan gimana hukum aqiqah sehabis berusia, apakah diperbolehkan mengaqiqahi diri sendiri serta gimana solusinya bila kala balita belum diaqiqahi oleh orang tua.
Hukum Aqiqah Sehabis Dewasa Hukum Aqiqah
Hukum aqiqah sendiri bagi komentar yang lebih kokoh merupakan sunnah muakkad yang dicoba pada hari ketujuh kelahiran serta aqiqah ialah perintah untuk seseorang bapak. Oleh sebab itu, tidak harus pula untuk bunda ataupun anak yang diaqiqahi buat menunaikannya. Apabila aqiqah belum ditunaikan pada hari ketujuh kelahiran, sunnah penerapan akikah tidak gugur walaupun si anak sudah baligh serta beranjak berusia. Bila dikala anak baligh, bapaknya sanggup buat melakukan aqiqah hingga senantiasa disarankan buat membagikan akikah untuk si anak yang dahulu belum diaqiqahi tersebut. Sehingga hukum aqiqah anak sehabis berusia merupakan disarankan untuk bapaknya.
Hukum Aqiqah Sendiri Sehabis Dewasa
Tetapi, apabila bapaknya sudah wafat dunia serta si anak belum diaqiqahi oleh ayahnya, kemudian apakah sang anak diperbolehkan buat melaksanakan aqiqah untuk dirinya sendiri? Hukum aqiqah sendiri sehabis berusia ada perbandingan komentar ulama. Terdapat komentar yang berkata kalau tidak harus melakukan aqiqah buat diri sendiri serta terdapat pula yang berkomentar kalau diperbolehkan serta disarankan aqiqah untuk diri sendiri. Bagi komentar yang lebih kokoh, penerapan aqiqah senantiasa disarankan untuk ia buat dirinya sendiri.
1.Tidak Harus Aqiqah Untuk Diri Sendiri Mengupas Hukum Aqiqah Sehabis Dewasa
Kala permasalahan ini ditanyakan kepada Imam Ahmad, dia menanggapi:“ Itu merupakan kewajiban orang tua, maksudnya tidak harus mengakikahi diri sendiri. Sebab yang lebih cocok sunah merupakan dibebankan kepada orang lain( ayah)”. Sedangkan Imam Atha serta Hasan Al- Bashri berkata,“ Ia boleh mengakikahi diri sendiri, sebab akikah itu disarankan menurutnya, serta ia tergadaikan dengan akikahnya. Sebab itu, ia disarankan buat melepaskan dirinya.”
Sedangkan bagi komentar kami, akikah disyariatkan buat dicoba ayah. Oleh sebab itu, orang lain tidak butuh menggantikannya….”( Al- Mughni, 9: 364).
Bagi Ibnu Qudamah,“ Bila ia belum diaqiqahi sama sekali, setelah itu baligh serta sudah bekerja, hingga ia tidak harus buat mengaqiqahi dirinya sendiri.”
2.Diperbolehkan Aqiqah Untuk Diri Sendiri
Syekh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 26: 266 menarangkan kalau perintah membagikan aqiqah 2 ekor kambing untuk anak pria serta anak wanita dengan satu kambing tidak cuma diperuntukan kepada si ayah, sehingga perintahnya mencakup buat bunda, anak, ataupun yang lain yang masih jadi saudara balita.
Dalam kitab Tuhfatul Maudud taman 87- 88 dipaparkan kalau Abdul Malik sempat bertanya kepada Imam Ahmad,“ Bolehkah ia berakikah kala berusia?” Dia menanggapi,“ Aku belum sempat mendengar hadis tentang aqiqah kala berusia sama sekali.” Abdul Malik bertanya lagi,“ Dahulu ayahnya tidak memiliki, setelah itu sehabis kaya, ia tidak mau membiarkan anaknya hingga ia akikahi?” Imam Ahmad menanggapi,“ Aku tidak ketahui. Aku belum mendengar hadis tentang akikah kala berusia sama sekali.” setelah itu Imam Ahmad berkata,“ Siapa yang melaksanakannya hingga itu baik, serta terdapat sebagian ulama yang mewajibkannya.”